Sepuluh tahun sudah sejak kejadian itu. Kejadian dimana Putri dan Rokim terpisah dengan garis ajal. Seminggu sekali Rokim berziarah ke makam Putri, istri tercintanya. Hal yang sama pun selalu dilakukannya setiap selesai berziarah, membuka laptop dan mengetik beberapa sajak cinta untuk Putri, atau sekedar menulis beberapa naskah bukunya.
Sesosok gadis manis melangkah perlahan menuju makam Putri. Dari kejauhan pandangan matanya seolah tak mau lepas memandang Rokim, berkutat dengan laptop duduk bersandar di pohon kamboja dekat makam Putri. Si Gadis tersenyum melangkahkan kaki. Duduk berhadapan dengan Rokim, Mata mereka bertemu, senyum manis terukir di bibir sang Gadis.
"Mata coklat itu, tatapan itu sekilas bener-bener mirip Putri, Siapa gadis ini? Kenapa dia ke makam Putri?" Batin Rokim.
"Kamu pasti Kak Rokim." Ucap Gadis itu,
"Iya bener. Maaf kamu siapa ya?" balas Rokim penasaran.
Gadis itu menolehkan wajahnya. Pandangannya beralih ke batu nisan Putri. Mengelus pelan membersihkan beberapa debu di atas nisan. Senyum manis kembali tersungging di bibirnya.
"Kak Putri beruntung banget ya punya suami kaya Kak Rokim." Ucap Gadis itu memandang nisan Putri.
"Oh ya sampai lupa, Namaku Shina, 15 tahun. bisa dibilang aku adiknya kak Putri. Salam kenal kak Rokim." Lanjut Shina.
"Adik? Siput eh Putri gag pernah bilang kalo dia punya adik." sahut Rokim.
"Ya secara teknis kita tidak ada hubungan darah. Tapi selama aku di panti, Kak Putri sudah seperti kakakku sendiri, dan dia juga udah angep aku seperti adiknya sendiri. Dia yang selalu jaga aku. Jadi dulu aku sering di Bully gara-gara aku buta. Cuma kak Putri yang jaga aku dan belain aku?"
"Wait.. buta? Apa mungkin matamu itu..."
"Iya kak bener banget. Ini mata donor dari Kak Putri. Kak Putri dulu sering bilang kalo aku jangan takut gelap, kak Putri janji, nanti yang akan bawain cahaya, kalo aku takut. Aku seneng banget kak, pas dia bilang gitu. Tapi aku gag nyangka juga akan kaya gini." Air mata mulai menetes pelan di pipi Shina.
Rokim tak mampu berkata. Kelopak matanya mencoba menahan airmata yang seakan melesat keluar. Dia bahagia bisa bertemu Shina, adik iparnya. Dia terharu dengan kebaikan istrinya. Rokim hanya mampu menepuk pelan kepala Shina. Memberi sedikit elusan menenangkan di kepala Shina.
"Udah jangan nangis gitu. Kakakmu gag suka tahu liat ada yang cengeng, ya udah kamu kirim doa dulu gi sana." Ucap Rokim mencoba menenangkan Shina.
Shina hanya mengangguk perlahan.
*******
"Amien" ucap Shina menyelesaikan doanya.
"Eh kak, makam Kak Putri aneh ya?" ujar Shina
"Aneh gimana? Ada ada aja ah kamu" jawab Rokim.
"Aku perhatiin di makam Kak Putri selalu bersih, gag pernah ada rumput liar. Dan yang lebih aneh, bunga kamboja gag pernah jatuh ke makam kak Putri. Padahal disamping itu pohonnya lumayan gedhe yak." Ucap Shina dengan wajah penasaran.
Rokim hanya tersenyum mendengar tiap kata Shina. Ingatannya tergugah kembali. Kembali terbersit memori bisik kata terakhir dari Putri kepadanya. Rokim ingat betul tiap rinci ucapan Putri malam itu.
"Eh sayang, sebesar apa sih cintamu ke aku?" Ucap Rokim
"Sebelum kelopak bunga kamboja jatuh di makamku, aku akan tetap dan akan selalu mencintaimu suamiku."
Putri memeluk erat tubuh Rokim, tersenyum manis mencium pipi kiri, dan berbisik halus di telinga kiri suaminya.
Dan sampai sekarang, sepuluh tahun pasca pemakaman Putri tak satupun kelopak bunga kamboja jatuh ke makamnya. Angin seolah menghalau kelopak bunga jatuh ke tanah peristirahatan Putri. Cinta mereka abadi, menembus batas cinta semua insan. Rokim selalu mencintai Putri. Putri pun seperti itu.
Rokim menepuk pundak Shina. Bangkit dari duduknya. Sedikit mengucel kepala Shina.
"Jaga baik-baik amanah kakakmu. Inget semua pesen dia. Anyway sepertinya ceritaku udah selesai, sekarang giliran Shina yang bikin cerita." Ucap Rokim menutup laptopnya menandakan berakhirnya serial #KBM_fm.
0 Response to "Harga Tiket Semakin murah"
Post a Comment